Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

EPISTEMOLOGI SUHRAWARDI DAN ALLAMAH THABATHABAI, SEBUAH PERBANDINGAN *) Oleh : Mas’oud Oumid, Iran


EPISTEMOLOGI SUHRAWARDI DAN ALLAMAH THABATHABAI,
SEBUAH PERBANDINGAN *)
Oleh : Mas’oud Oumid, Iran

Abstrak

Penghulu mazhab Iluminasi dalam dunia filsafat (Syaikh AL-Isyraq) serta Allamah Thabathaba’i, adalah dua orang filosof  yang dianggap satu mazhab. Kedua filosof ini membicarakan wilayah dan tema filsafat yang sama. Namun demikian, tentu saja, kesamaan pandangan di antara mereka bukan hanya diantara kedua filosof ini saja, tetapi juga dengan filosof-filosof lainnya yang pernah disebutkan dalam sejarah pemikiran filsafat. Akan tetapi dari sudut pandang yang lain, Suhrawardi dan Allamah Thabathaba’i dapat diberikan predikat sebagai pemikir yang besar dan berpengaruh dalam dunia filsafat.
Kedua filosof besar ini dapat disebut sebagai peletak dasar sebuah mazhab pemikiran (mu’assis). Wacana pemikiran filsafat setelah masa kedua filosof ini mengalami perkembangan yang signifikan, bahkan filosof kontemporer saat ini banyak merujuk kepada keduanya yang telah meletakkan sebuah dasar pemikiran filsafat yang sangat kuat. Penjelasan pemikiran filsafat yang adiluhung serta metode yang kreatif dari kedua filosof besar ini, telah memberikan ilham dan menjadi referensi yang sangat bernilai bagi filosof-filosof yang datang setelahnya.
Tulisan ini mencoba untuk memberikan gambaran dan memperbandingkan bagian-bagian epistemologi tertentu dalam pemikiran dan filsafat kedua filosof besar ini. Hal itu dilakukan untuk, selain memperlihatkan prinsip-prinsip epistemologi yang mereka anut, juga untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan pandangan mereka dalam bidang epistemologi tersebut.

1.      Defenisi Ilmu

Para filosof Islam menganggap bahwa ilmu, kesadaran dan ma’rifat, adalah bagian dari konsepsi bukti keberadaan diri, yang bebas dari genus logis dan differensia. a) Akan tetapi mereka tetap menganggap, bahwa karena ketiga elemen ini juga tetap harus dijelaskan secara filosofis, maka mereka akhirnya memberikan penjelasan filosofis dan analitis ketiga elemen tersebut ketika membahas topik ilmu. Dalam mendefenisikan ilmu, Suhrawardi mengatakan:

‘Ilmu adalah kehadiran sesuatu di dalam diri, yang bebas dari materialitas. Dengan kata lain, ‘ilmu adalah kehadiran sesuatu yang bebas dari materialitas di dalam diri; akan tetapi defenisi ini tidak bisa dianggap sebagai defenisi yang paling sempurna. Alasan ketidaksempurnaan ini adalah karena adanya persepsi, baik persepsi tentang diri, maupun persepsi tentang sesuatu yang lain (selain diri).(1)