EPISTEMOLOGI
SUHRAWARDI DAN ALLAMAH THABATHABAI,
SEBUAH PERBANDINGAN *)
Oleh : Mas’oud Oumid,
Iran
Abstrak
Penghulu mazhab Iluminasi
dalam dunia filsafat (Syaikh AL-Isyraq) serta Allamah Thabathaba’i,
adalah dua orang filosof yang dianggap
satu mazhab. Kedua filosof ini membicarakan wilayah dan tema filsafat yang
sama. Namun demikian, tentu saja, kesamaan pandangan di antara mereka bukan
hanya diantara kedua filosof ini saja, tetapi juga dengan filosof-filosof
lainnya yang pernah disebutkan dalam sejarah pemikiran filsafat. Akan tetapi
dari sudut pandang yang lain, Suhrawardi dan Allamah Thabathaba’i dapat
diberikan predikat sebagai pemikir yang besar dan berpengaruh dalam dunia
filsafat.
Kedua filosof besar ini
dapat disebut sebagai peletak dasar sebuah mazhab pemikiran (mu’assis).
Wacana pemikiran filsafat setelah masa kedua filosof ini mengalami perkembangan
yang signifikan, bahkan filosof kontemporer saat ini banyak merujuk kepada
keduanya yang telah meletakkan sebuah dasar pemikiran filsafat yang sangat
kuat. Penjelasan pemikiran filsafat yang adiluhung serta metode yang kreatif
dari kedua filosof besar ini, telah memberikan ilham dan menjadi referensi yang
sangat bernilai bagi filosof-filosof yang datang setelahnya.
Tulisan ini mencoba untuk
memberikan gambaran dan memperbandingkan bagian-bagian epistemologi tertentu
dalam pemikiran dan filsafat kedua filosof besar ini. Hal itu dilakukan untuk,
selain memperlihatkan prinsip-prinsip epistemologi yang mereka anut, juga untuk
menjelaskan persamaan dan perbedaan pandangan mereka dalam bidang epistemologi
tersebut.
1. Defenisi Ilmu
Para filosof Islam menganggap
bahwa ilmu, kesadaran dan ma’rifat, adalah bagian dari konsepsi bukti
keberadaan diri, yang bebas dari genus logis dan differensia. a) Akan tetapi mereka tetap menganggap,
bahwa karena ketiga elemen ini juga tetap harus dijelaskan secara filosofis,
maka mereka akhirnya memberikan penjelasan filosofis dan analitis ketiga elemen
tersebut ketika membahas topik ilmu. Dalam mendefenisikan ilmu, Suhrawardi mengatakan:
‘Ilmu adalah kehadiran
sesuatu di dalam diri, yang bebas dari materialitas. Dengan kata lain, ‘ilmu
adalah kehadiran sesuatu yang bebas dari materialitas di dalam diri; akan
tetapi defenisi ini tidak bisa dianggap sebagai defenisi yang paling sempurna.
Alasan ketidaksempurnaan ini adalah karena adanya persepsi, baik persepsi
tentang diri, maupun persepsi tentang sesuatu yang lain (selain diri).(1)